Image by Ryan McGuire from Pixabay

Saat ini Indonesia sedang mengalami dampak hebat dari pandemi yang disebabkan oleh Virus Covid-19. Menghadapi situasi ini, ada baiknya berbagai pihak yang berkesempatan untuk membagikan informasi seputar Covid-19 mengetahui sebuah model komunikasi kesehatan yang dapat diterapkan. Model komunikasi kesehatan ini sering disebut dengan model komunikasi kesehatan tujuh fase, yang diterapkan untuk penyebaran informasi skala besar. Melihat kondisi Indonesia yang memiliki penduduk berjumlah besar dan juga banyaknya kesimpang siuran informasi yang berpotensi menimbulkan kepanikan, maka jenis komunikasi kesehatan ini dapat diterapkan terutama saat menghadapi wabah seperti saat ini. Berikut adalah bagan yang menggambarkan bagaimana komunikasi kesehatan dapat dijalankan melalui tujuh fase:

Model Komunikasi Kesehatan Tujuh Fase

Model Komunikasi Kesehatan Tujuh Fase

Model komunikasi seperti yang digambarkan diatas memiliki tujuh buah fase yang berurutan. Fase pertama berfokus pada perumusan masalah dan deskripsi dari masalah tersebut. Dalam kasus Covid-19, maka komunikator (disini bisa pemerintah pusat, daerah, maupun pengambil kebijakan sectoral) perlu untuk merumuskan dahulu masalah yang perlu dipahami oleh audiens. Ada banyak sekali informasi mengenai Covid-19, namun baiknya dipilih masalahmasalah utama dan krusial untuk disampaikan. Setelah masalah didefiniskan, maka pada fase kedua yang perlu dilakukan adalah riset audiens. Di fase ini dicari pemikiran, pengetahuan, kondisi dan kebutuhan dari audiens terhadap permasalahan Covid-19 yang sedang dihadapi. Kemudian pada fase ketiga, dipilihlah strategi intervensi yang tepat sesuai hasil riset terhadap audiens tersebut. Strategi intervensi tersebut dapat mencakup pendidikan, kebijakan, layanan kesehatan, teknologi, maupun mobilisasi masyarakat. Langkah ini cukup penting untuk penanganan Covid-19 karena mau tidak mau perlu adanya intervensi agar penyebaran tidak makin meluas. Dilanjutkan dengan fase keempat yaitu penyusunan pesan yang diperlukan untuk mendukung strategi intervensi yang akan dilakukan. Disini pesan yang disampaikan harus lugas, jelas, dan dapat diterima oleh audiens. Perlu dipahami bahwa pesan yang diangkat menjadi sangat sensitif pada masa-masa wabah seperti ini. Pesan yang terlalu ringan akan menimbulkan pengabaian, sedangkan pesan yang terlalu keras akan menimbulkan perdebatan dan penolakan. Maka dari itu pesan harus disusun dengan fakta-fakta dan pemilihan diksi yang tepat sesuai dengan karakteristik audiens yang dituju. Pada fase kelima, ditentukan pemilihan lingkungan yang tepat untuk penyampaian pesan, yaitu tempat dimana audiens sasaran paling mudah dijangkau. Sebagai contoh jika audiensnya adalah anak-anak maka sekolah akan menjadi tempat yang paling tepat, atau jika audiensnya pegawai maka perkantoran akan menjadi tempat yang tepat. Perlu dipahami untuk kasus Covid-19 yang menyerang semua pihak, maka hamper semua tempat pasti akan dijadikan sasaran penyampaian pesan. Namun perlu diperhatikan di tempat yang berbeda, maka pesan harus diolah secara berbeda pula. Lalu selanjutnya di fase yang keenam ditentukan saluran komunikasi yang paling tepat sesuai karakteristik audiens. Saluran yang dimaksudkan disini adalah jalur atau rute tempat berlangsungnya komunikasi, seperti interpersonal, kelompok kecil, organisasi, media massa, masyarakat dan teknologi. Dalam kasus Covid-19 dimana orang-orang tidak disarankan berkumpul dan berkerumun, maka media interaktif dan media massa menjadi pilihan yang paling tepat. Seluruh saluran telivisi, radio, media cetak, dan berbagai media di internet dapat bersama-sama digunakan untuk menyampaikan informasi dengan bijak. Fase ketujuh yang terakhir adalah identifikasi metode komunikasi kesehatan yang tepat, contohnya konferensi pers, presentasi, konseling, web page, dan materi cetak. Dalam kasus Covid-19 ini, perlu diingat bahwa adanya larangan untuk berkerumun. Maka dari itu, akan jauh lebih baik jika materi dibuat dalam bentuk yang mudah untuk diviralkan dan juga menarik perhatian seperti infografis.

Demikian informasi mengenai model komunikasi yang dapat digunakan dalam kasus wabah seperti saat ini. Diharapkan informasi ini berguna bagi pembaca, terutama yang berkesempatan untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat luas. Berhati-hatilah senantiasa dalam menyebarkan pesan agar tujuan pencegahan penyebaran wabah ini bukan malah menjadi pemicu kepanikan. Selamat menyebarkan kabar dengan baik. Semoga kita semua sehat selalu.

 

Oleh :

Monika Teguh, S.Sos., M.Med.Kom.
Dosen FIKOM Universitas Ciputra Surabaya

About the author : Admin

Website ini dikelola oleh Program Studi Informatika Universitas CIputra. Semua artikel yang dimuat merupakan milik penulis, dan pengelola website tidak bertanggung jawab terhadap isi artikel. Silahkan memanfaatkan isi website ini dengan penuh kesadaran dan melalukan validasi maupun cek dan ricek sebelum memanfaatkannya.

Leave A Comment