Image by Huahom from Pixabay

Beredar pesan berantai di grup sosial media bahwa pH untuk virus corona bervariasi dari 5,5 hingga 8,5. Pesan tersebut memberi saran untuk “mengambil lebih banyak makanan alkali yang berada di atas tingkat pH virus” agar kita bisa mengalahkan virus corona. Tidak hanya sampai di sana, pesan tersebut juga mencantumkan daftar makanan (dan “kapur”, yang saya pikir adalah kesalahan terjemahan dari “lime” atau “jeruk nipis”) dengan pH bervariasi, yaitu sebagai berikut:

  • Lemon – 9,9 pH
  • Kapur – 8.2pH
  • Alpukat – 15,6pH
  • Bawang Putih – 13,2pH
  • Mangga – 8.7pH
  • Tangerine – 8.5pH
  • Nanas – 12,7pH
  • Dandelion – 22,7pH
  • Jeruk – 9.2pH

Sebagaimana pesan-pesan berantai lainnya, pesan ini juga diakhiri kalimat ajakan untuk memberikan informasi tersebut kepada semua keluarga dan teman pembaca.

Wabah Covid-19 memang cukup menghebohkan seluruh penduduk dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai ahli dari beragam bidang keilmuan saling bantu-membantu untuk mencari maupun menemukan informasi baru mengenai virus SARS-CoV-2 atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 dan menyebarkan informasi tersebut demi kebaikan masyarakat di dunia. Demikian pula dengan masyarakat yang ikut serta menyebarkan informasi mengenai virus ini kepada keluarga dan teman-temannya dengan tujuan agar setiap orang dapat menjadi waspada serta siap sedia dalam menangkal wabah Covid-19. Namun, bukan berarti kita boleh menelan semua informasi tanpa disaring terlebih dahulu. Kita harus tetap waspada terhadap segala informasi yang beredar, karena tidak semua informasi tersebut adalah benar, bahkan ada pula yang justru berbahaya bagi kesehatan.

Setelah memperoleh pesan berantai ini dari beberapa grup sosial media yang saya ikuti, saya merasa penasaran dari manakah asal informasi yang disebarkan oleh pesan tersebut? Saya berusaha menelusuri asal mula pesan ini di mesin pencari web dan menemukan bahwa ternyata informasi ini juga beredar di luar Indonesia. Sumber informasi yang digunakan perihal pH coronavirus adalah suatu jurnal yang ditulis oleh Gallagher, dkk. (1991). Setelah saya cermati isi pesan dan membandingkannya dengan isi jurnal, saya menemukan beberapa kesalahan yang sangat esensial.

Coronavirus bukan hanya SARS-CoV-2

Coronavirus adalah suatu kelompok virus berbentuk bulat yang memperoleh namanya dari Bahasa  Latin “corona” yang berarti “mahkota”. Jenis virus ini sudah sangat lama dikenal oleh manusia, semenjak tahun 1930an, dan umumnya menyerang organ pernapasan manusia. Penyakit influenza yang dialami manusia biasanya disebabkan jenis virus ini, demikian pula penyakit pernapasan lain yang cukup berbahaya seperti MERS, SARS, flu burung H5N1, dan sebagainya. Oleh sebab itu, kita sebaiknya jangan gegabah untuk beranggapan bahwa karakteristik semua coronavirus adalah sama.

Jurnal yang ditulis oleh Gallagher, dkk. (1991) adalah mengenai coronavirus hepatitis MHV4 pada tikus. Pada jurnal tersebut, pH 5,5 – 8,5 bukan merujuk pada pH hidup coronavirus, melainkan pH optimum terjadinya infeksi sel tikus. Sumber lain yang saya peroleh terkait SARS-CoV-2 adalah penelitian cepat yang dilakukan oleh Chin, dkk (2020). Meskipun belum divalidasi, tetapi setidaknya informasi yang mereka berikan merupakan informasi terbaik yang bisa kita peroleh hingga saat ini. Mereka menyebutkan bahwa SARS-CoV-2 dapat tumbuh dengan baik pada rentang pH yang sangat luas, yaitu pH 3-10.

Informasi mengenai batas pH lethal untuk SARS-CoV-2 masih belum dapat saya temukan hingga artikel ini ditulis. Namun, terdapat informasi mengenai pH lethal untuk virus SARS-CoV yang menjadi wabah pada tahun 2002-2004, yaitu pH di bawah 3 dan di atas 12 (Darnell, dkk., 2004). Sekali lagi, kita tidak dapat menyamakan karakteristik dua jenis virus yang berbeda, sehingga informasi ini harus kita telaah secara bijak.

Rentang pH yang kita kenal adalah 0-14

Salah satu komoditas yang ditulis pada pesan berantai di sosial media adalah dandelion dengan pH 22,7. Cukup mengejutkan bagi kita yang pernah bekerja di bidang kimia. Secara umum, rentang pH yang kita kenal adalah dari pH 0 (asam) hingga pH 14 (basa/ alkali), sementara pH 7 dianggap sebagai titik pH yang netral. Pada umumnya, segala produk makanan memiliki rentah pH di bawah 7, kecuali makanan tertentu yang pengolahannya menggunakan basa. Semakin masam rasa suatu produk, pH yang terukur juga semakin rendah. Berikut ini saya mencoba untuk membandingkan pH komoditas yang disebutkan pada pesan berantai dengan pH hasil penelitian yang saya peroleh dari berbagai sumber. Perlu diperhatikan bahwa nilai pH yang tercantum pada tabel di bawah ini hanyalah rentang nilai pH secara kasar dan tidakdapat digunakan sebagai referensi ilmiah.

PH-Makanan

PH-Makanan

SARS-CoV-2 adalah virus saluran pernapasanSebagai tambahan informasi, meskipun rentang nilai pH yang umum dikenal adalah pH 0-14, tetapi sebenarnya ada nilai pH di bawah 0 dan di atas 14. Perlu diperhatikan bahwa bahan-bahan kimia dengan pH di bawah 0 atau di atas 14 adalah cairan asam kuat atau basa kuat yang sangat bersifat korosif pada benda dan merusak jaringan tubuh kita. Tidak ada jus produk segar maupun bahan pangan apapun yang memiliki nilai pH di luar 0 hingga 14.

Sangat perlu kita pahami bahwa SARS-CoV-2 menyerang saluran pernapasan manusia, bukan menyerang saluran pencernaan. Kita tidak mungkin berharap bahwa saluran pernapasan kita akan memiliki pH sesuai dengan makanan yang kita makan. Meskipun kita juga bisa bernapas melalui mulut, kita perlu menyadari bahwa udara yang kita hirup akan masuk ke saluran tenggorokan menuju paru-paru, bukan melalui saluran kerongkongan yang masuk ke lambung.

Sumber Gambar: Prof. Squirrel (Wikimedia).

Sumber Gambar: Prof. Squirrel (Wikimedia).

Gambar di atas menunjukkan perbedaan lokasi kerongkongan (esophagus) sebagai jalur masuk makanan ke lambung dengan larynx yang menjadi pintu masuk udara ke tenggorokan. Larynx sendiri bertugas untuk mencegah agar makanan maupun minuman yang kita telan tidak sampai masuk ke paru-paru kita. Jika sampai ada makanan atau minuman yang masuk melalui larynx, tubuh kita akan melakukan mekanisme “tersedak” sebagai upaya untuk mengeluarkan makanan/ minuman tersebut dari tenggorokan. Oleh sebab itu, upaya mengubah pH saluran pernapasan dengan mengonsumsi makanan atau minuman tertentu bisa dikatakan tidak memungkinkan untuk dilakukan.

Setiap organ tubuh manusia memiliki rentang pH optimum yang berbeda. Misalnya, kulit kita memiliki pH 4-6,5; mata memiliki pH 7-7,3; hidung memiliki pH 5,5-6,5; mulut memiliki pH 6,8-7,5; lambung memiliki pH 1,5-2,0; dan pH paru-paru adalah 7,38-7,42. Kita tidak bisa serta-merta mengubah pH organ tubuh kita karena bisa berakibat sangat fatal dan bahkan bisa berujung pada kematian. Oleh sebab itu, sangat tidak dianjurkan untuk mengonsumsi makanan atau minuman dengan pH ekstrim dengan tujuan mencegah infeksi SARS-CoV-2, karena selain tidak memiliki manfaat, tindakan tersebut mungkin malah akan mengganggu kesehatan kita.

Terdapat satu hal yang saya setujui dari informasi yang disampaikan oleh pesan berantai, yaitu ajakan untuk mengonsumsi buah dan sayur. Buah dan sayur, khususnya yang berwarna, memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi dan dapat kita gunakan untuk meningkatkan imunitas kita terhadap infeksi virus. Jika perlu, kita juga bisa mengonsumsi suplemen antioksidan atau Vitamin C sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Namun, kita juga perlu waspada, bahwa segala sesuatu jika dikonsumsi berlebihan pasti akan berakibat buruk bagi tubuh kita, sekalipun yang kita konsumsi adalah antioksidan dan vitamin. Jangan mengonsumsi vitamin C lebih dari 2000 mg per hari karena bisa menyebabkan gangguan pada ginjal kita. Selain itu, akan lebih baik jika kita membagi dosis Vitamin C harian yang kita minum menjadi tiga hingga empat kali dalam sehari.

 

Bibliografi

  • Chin, A., Chu., J., Perera, M., Hui, K., Yen, H-L., Chan, M., Peiris, M., dan Poon, L. (2020). Stability of SARS-CoV-2 in Different Environmental Conditions. medRxiv.
  • Darnell, M.E.R., Subbaro, K., Feinstone, S.M., dan Taylor, D.R. (2004). Inactivation of the coronavirus that induces severe acute respiratory syndrome, SARS-CoV. J. Virol. Methods 121(1): 85-91.
  • Gallagher, T.M., Escarmis, C., dan Buchmeier, M.J. (1991). Alteration of the pH Dependence of Coronavirus-Induced Cell Fusion: Effect of Mutations in the Spike Glycoprotein. Journal of Virology 65(4): 1916-1928.

 

Ditulis oleh:

Oki Krisbianto, S.TP., M.Sc.
Dosen Program Studi Teknologi Pangan
Universitas Ciputra Surabaya

About the author : Admin

Website ini dikelola oleh Program Studi Informatika Universitas CIputra. Semua artikel yang dimuat merupakan milik penulis, dan pengelola website tidak bertanggung jawab terhadap isi artikel. Silahkan memanfaatkan isi website ini dengan penuh kesadaran dan melalukan validasi maupun cek dan ricek sebelum memanfaatkannya.

Leave A Comment